Sabtu, 13 Mei 2017

TUGAS SOFTSKILL - Review jurnal Effectiveness of hypnosis therapy and Gestalt therapy as depression treatments



Effectiveness of hypnosis therapy and Gestalt therapy as depression treatments



Peneliti : Elizabeth González-Ramírez, Teresita Carrillo-Montoya, María L. García-Vega, Catherine E. Hart, Alan A. Zavala-Norzagaray, dan César P. Ley-Quinónez.

Keterangan : 28 (2017) 33–37. http://dx.doi.org/10.1016/j.clysa.2016.11.001

Pendahuluan :
        Depresi dianggap sebagai salah satu gangguan psikologis paling banyak di dunia. Diperkirakan bahwa depresi mempengaruhi 350 juta orang, dan bisa berubah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, terutama bila berlangsung lama dan berasal dari intensitas sedang hingga berat; Hal itu juga bisa menyebabkan penderitaan yang besar dan mengganggu aktivitas kerja, sekolah, dan keluarga. Dalam kasus terburuk depresi bisa menyebabkan bunuh diri; Tak heran bila gangguan jiwa ini menyebabkan 804.000 kematian setiap tahunnya (OMS, 2012).
        Meskipun ada perawatan depresi yang efektif, kurang dari separuh orang yang terkena dampak di dunia mendapat perawatan semacam itu. Hambatan untuk perawatan yang efektif mencakup kekurangan sumber daya dan penyedia layanan kesehatan terlatih, dan stigma sosial yang terkait dengan gangguan mental. Hambatan lain untuk perawatan yang efektif adalah penilaian yang tidak akurat. Bahkan di beberapa negara berpenghasilan tinggi, orang-orang yang mengalami depresi tidak selalu didiagnosis dengan benar, dan orang lain yang tidak menderita kelainan ini kadang salah didiagnosis dan diberi resep antidepresan (OMS, 2012).
        Terapi psikologis, salah satu komponen kunci terapi perilaku kognitif untuk gangguan kecemasan, menunjukkan bahwa perhatian mungkin memainkan peran penting dalam kepunahan rasa takut dan kecemasan; Namun, penyebab pasti depresi tidak diketahui dan tumbuh dengan cepat. Saat ini ada berbagai macam alternatif terapeutik, seperti terapi perilaku kognitif (Spiegel & Spiegel, 2004). Efektivitas terapi ini atau intervensi psikologis untuk depresi tinggi, dan tidak ada perbedaan yang signifikan di antara keduanya.
        Dalam paradigma eksistensialis-humanistik dan fenomenologis saat ini, terapi Gestalt menekankan kapasitas individu untuk mengembangkan potensinya. Sepanjang garis ini, perubahan yang dihasilkan seseorang terjadi melalui pengalaman, karena ini adalah kesadaran, dalam proses ini, apa yang memberi makna pada penemuan. Dalam psikoterapi Gestalt, apa yang dianggap sebagai orang dalam keseluruhannya, kombinasi antara dimensi sensoris, afektif, intelektual, sosial, dan spiritual (Brownell, 2010). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasien yang diobati dengan terapi Gestalt menunjukkan gejala depresi lebih sedikit setelah intervensi (Cook, 1999). Namun, belum banyak penelitian yang mengevaluasi keefektifan terapi Gestalt.

Responden :

Peserta merupakan 300 mahasiswa Autonomous University of Sinaloa Culiacan, Sinaloa, Mexico dan mengidentifikasi pasien dengan beberapa jenis depresi. 

Metode :

        Begitu peserta terpilih, Beck Anxiety Inventory (BAI) diterapkan sebagai pre-test untuk menugaskan peserta dengan cara yang sama kepada masing-masing kelompok. BAI adalah survei 21 item yang dikelola sendiri, 15 item merujuk pada gejala psikologis-kognitif, dan 6 lebih banyak gejala somatik vegetatif. Ini mensistematisasikan 4 jawaban alternatif untuk setiap item dan mengevaluasi tingkat keparahan / intensitas gejala dan mereka dipesan dari tingkat keparahan tertinggi sampai tingkat terendah.
        Total skor pada setiap item adalah 0 sampai 3. Total skor dalam tes BAI adalah 0 sampai 63 poin. Poin yang biasanya diterima untuk lulus intensitas / tingkat keparahannya adalah: tidak ada depresi (0-9 poin), depresi ringan (10-18 poin), depresi moderat (19-29 poin), dan depresi berat (30-63 poin).
        Metode kuasi eksperimental kuantitatif digunakan, dengan dua kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dengan desain pra-pasca uji. Satu kelompok eksperimen itu diintervensi dengan hipnosis terapeutik (HT), sementara kelompok eksperimen lainnya diintervensi dengan kombinasi Terapi Gestalt-Hypnosis (GHT) dan Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Yang terakhir lebih efektif bila dikombinasikan dengan yang pertama daripada bila digunakan dengan cara yang terisolasi. Akhirnya, kelompok kontrol digunakan seperti mendengarkan pasif, yaitu, hanya mendengar secara pasif tanpa jenis intervensi atau umpan balik selama sesi yang berbeda dalam penelitian.

Hasil :
Hasilnya menunjukkan bahwa ketiga kelompok tersebut menyajikan tingkat depresi moderat menurut BAI. Pada akhir penganiayaan, kelompok kontrol tidak menunjukkan perbedaan statistik antara tes pra-tes dan tes pos (F (1, 18) = 0,00, p = 1,00), sementara kelompok lain yang diobati dengan HT dan GHT menunjukkan perbedaan statistik antara pra-tes dan Post-test (HT: F (1, 18) = 12,19, p = .003; GHT: F (1, 18) = 15.65, p = .001), menunjukkan penurunan derajat depresi.

Referensi :
http://www.copmadrid.org/webcopm/publicaciones/clinica/cl2017v28n1a5.pdf;

Kamis, 20 April 2017

Review Jurnal Effectiveness of Logotherapy concepts training in increasing the quality of life among students


Effectiveness of Logotherapy concepts training in increasing the 
quality of life among students

Peneliti : Hamideh Haditabar, Neda Smaeeli Far dan Zakieh Amani

Keterangan : International Journal of Psychology and Behavioral Research. Vol., 2(4), 223-230, 2013. ISSN 2322-4002.

Pendahuluan :
Ada berbagai macam penelitian yang dilakukan dan sebagian penelitian yang rinci tentang manusia yang sakit dan masalah yang telah dianalisis dalam banyak buku dan artikel. Psikolog yang digunakan untuk memberi lebih banyak cahaya pada emosi negatif, seperti stres dan depresi, bukan emosi positif seperti, kebahagiaan dan kepuasan hidup (Myers, 2000). Pengurangan stres dan kenaikan tingkat kesehatan masyarakat dan kualitas hidup merupakan mata pelajaran penting yang baru-baru ini dianggap oleh Ahli kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia menunjukkan dimensi fisik, sosial dan spiritual untuk mendefinisikan dimensi eksistensi manusia, dan membahas dimensi keempat spiritualitas pada pertumbuhan dan evolusi manusia.

Selama 50 tahun terakhir, semua pemerintah telah berusaha untuk berkonsentrasi pada tingkat pertumbuhan ekonomi. Ini adalah dalam kondisi bahwa tingkat stres, ketegangan, penggunaan narkoba, obsesi, dan perilaku anti-sosial telah berkembang selama abad terakhir. Jadi, dapat disimpulkan bahwa inilah saatnya pemerintah dan warga negara memperkirakan kembali nilai prioritas mereka. Pada tahun 1957,% 52 orang Inggris menggambarkan diri mereka sebagai "sangat bahagia", namun tingkat ini turun hanya sebesar% 36 di tahun 2006. Hasil yang sama telah ditemukan di Amerika Serikat. Temuan menunjukkan bahwa kesehatan telah berkurang di antara warga AS, dan tingkat depresi telah meningkat selama 10 kali (Melvyn, 2006). Di sini dan dalam penelitian ini kami telah mencoba untuk mengetahui apakah konsep pelatihan konsep Logoterapi kelompok tersebut atau belum efektif dalam kualitas hidup siswa sekolah menengah di Teheran selama tahun ajaran 2011-2012.

Setiap pendekatan remedial didasarkan pada sebuah teori. Metode dan karya klinis telah terinspirasi oleh teori tersebut. Teori Logoterapi didasarkan pada tiga pilar yang menunjukkan pandangan sekolah ini tentang manusia. Pilar tersebut adalah sebagai berikut:
a) Hidup itu berarti dalam segala situasi.
b) Keinginan manusia akan makna
c) Manusia memiliki kebebasan dalam segala situasi untuk menggunakan keinginannya untuk memberi makna dan menemukan maknanya (Sjolie, 2002).

Responden :
Peserta termasuk semua siswa sekolah menengah di distrik pendidikan ketujuh di Teheran pada tahun ajaran berjalan dari tahun 2011-2012. Semua peserta adalah siswa perempuan dengan usia rata-rata 17. 8.

Metode :
Metode multi stage sampling digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
Tahap pertama: Tiga sekolah dipilih secara acak dari antara semua sekolah menengah atas dari distrik pendidikan ketujuh.
Tahap kedua: Satu kelas dipilih dari masing-masing SMA yang dipilih.
Tahap ketiga: Kuesioner kualitas didistribusikan di antara semua siswa kelas yang dipilih. Siswa yang nilai kualitas hidupnya di bawah rata-rata (30-70) dipilih.
Setelah itu, diantara mahasiswa tersebut, 30 siswa dipilih secara acak. Tahap keempat: Siswa terpilih dibagi menjadi dua kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Variabel independen (konsep pengajaran Logoterapi) dilakukan pada kelompok eksperimen. Kelompok kontrol tidak mendapat pelatihan. Penelitian semi eksperimental ini menggunakan pre-test, post-test dengan desain kelompok kontrol.

hasil :
Berdasarkan hasil uji analisis kovarian, dapat disimpulkan bahwa pelatihan konsep Logoterapi berpengaruh terhadap peningkatan kualitas hidup peserta terpilih (siswa sekolah menengah) dan subscalesnya (dimensi mental dan fisik). Hasil tersebut bermakna secara statistik (p <0, 05).
Menurut bukti di atas, hipotesis telah dikonfirmasi. Efek intervensi pada tahap pasca uji adalah 83/0 yang menemukan dukungan untuk peningkatan dimensi mental total kualitas hidup; Oleh karena itu, telah berpengaruh pada tahap pasca uji coba kelompok eksperimen. Oleh karena itu, telah berpengaruh pada tahap pasca uji coba kelompok eksperimen.Oleh karena itu, telah berpengaruh pada tahap pasca uji coba kelompok eksperimen. Kuasa statistik di atas 8/0 menunjukkan bahwa jumlah korpus dan akurasi statistik dapat diterima.

Sabtu, 18 Maret 2017

Perbedaan Psikoterapi dan Konseling

Nama
:
Vinezzia Ratu N
NPM
:
1C514069
Kelas
:
3PA04

TUGAS PSIKOTERAPI
Perbedaan Psikoterapi dan Konseling


A.      Definisi Psikoterapi dan Konseling

a.    Definisi Psikoterapi
Psikoterapi adalah usaha penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku. Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu "Psyche" yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan "Therapy" yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu, psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran.

Psikoterapi juga memiliki bebeapa pengertian dari berbagai tokoh antara lain, menurut Hariyanto (2010), psikoterapi adalah proses difokuskan untuk membantu Anda menyembuhkan dan konstruktif belajar lebih banyak bagaimana cara untuk menangani masalah atau isu-isu dalam kehidupan Anda. Hal ini juga dapat menjadi proses yang mendukung ketika akan melalui periode yang sulit atau stres meningkat, seperti memulai karier baru atau akan mengalami perceraian.

b.    Definisi Konseling
Menurut Schertzer dan Stone (1980), konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.

Menurut Prayitno dan Erman Amti (2004:105), konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. 


B.       Perbedaan Psikoterapi dan Konseling

Perbedaan konseling dan psikoterapi didefinisikan oleh Pallone (1977) dan Patterson (1973) yang dikutip oleh Thompson dan Rudolph (1983), sebagai berikut:
KONSELING
PSIKOTERAPI
1.      Klien      
1.      Pasien
2.      Gangguan yang kurang serius    
2.      Gangguan yang serius
3.      Masalah: Jabatan, Pendidikan, dsb
3.      Masalah kepribadian dan pengambilankeputusan
4.      Berhubungan dengan pencegahan
4.      Berhubungan dengan penyembuhan
5.      Lingkungan pendidikan dan non medis     
5.      Lingkungan medis
6.      Berhubungan dengan kesadaran
6.      Berhubungan dengan ketidaksadaran
7.      Metode pendidikan
7.      Metode penyembuhan

Terdapat juga perbedaan psikoterapi dan konseling menurut Mappiare (dalam Hartosujono, 2004) ada sejumlah perbedaan psikoterapi dan konseling dikemukakan sebagai berikut:
1.   Konseling merupakan bagian dari psikoterapi. Psikoterapi merupakan bagian yang lebihluas dari pada konseling.
2. Konseling lebih mengarah pada penyebab atau awal masalah. Selanjutnya konseling lebihmengarah pada pengembangan-pendidikan-pencegahan. Berbeda dengan psikoterapi yangmengarah penyembuhan-penyesuaian-penyembuhan.
3.   Dasar konseling adalah filsafat manusia. Dasar dari psikoterapi adalah perbedaan individual dengan dasar-dasar psikologi kepribadian dan psikopatologi. Pada perkembangan selanjutnya konseling juga memanfaatkan perkembangan teori-teori kepribadian dalam konteks ilmu perilaku.
4.    Dijelaskan oleh Narayana Rao (dalam Hartosujono, 2004) bahwa tujuan antara konseling dan psikoterapi sama, namun keduanya berbeda dalam proses pencapaiannya. Psikoterapimencapainya dengan cara ‘pembedahan’ psikis dan pembedahan otak. Proses konselinglebih mengarah pada identifikasi dan kekuatan-kekuatan positif yang dimiliki klien, agarklien lebih maksimal dalam kehidupannya.

C.       Tujuan Psikoterapi dan Konseling

a.    Tujuan psikoterapi menurut beberapa ahli, yaitu:

1.    Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Psikodinamik menurut Ivey, et al (1987) adalah : membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
2.    Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Psikoanalisis menurut Corey (1991) dirumuslan sebagai : membuat sesuatu yag tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupakan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
3.    Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada peribadi, menurut Ivey, et al (1987) adalah : untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.
4.    Tujuan psikoterapi dengan pendekatan behavioristik, dijelaskan oleh Ivey, et al (1987) sebagai berikut : untuk menghilangkan kesalah dalam belajar dan berperilaku dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan. Arah perubahan perilaku yang khusus dilakukan oleh klien. Corey (1991) menjelaskan mengenai hal ini sebagai berikut : Terapi perilaku bertujuan secara umum untuk menghilangkan perilaku yang malasuai (mal adaptive) dan lebih banyak mempelajari perilaku yang efektif.
5.    Tujuan psikoterapi dengan metode dan teknik Gestalt, dirumuskan oleh Corey, et al (1987) sebagai berikut : Agar seseorang lebih menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang. Corey (1991) merumuskan tujuan Gestalt sebagai berikut : membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat dari pengalamannya. unutk merangsangya meneriama tanggung jawab dari dorongan yang ada di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya terhadap dorongan-dorongan dari dunia luar.

b. Tujuan konseling menurut Krumboltz, yaitu :

1.    Mengubah perilaku yang salah penyesuaian, para ahli konseling dan psikoterapi berpandangan bahwa tujuan konseling adalah mengubah tingkah laku klien yang salah penyesuaian menjadi perilaku yang tepat penyesuaiannya. Seseorang yang salah penyesuaian perlu mendapatkan konseling, jika tidak dibantu maka dapat berpengaruh pada perkembangan kepribadiannya. Terkadang ada klien yang tidak dapat memahami diri dan perilakunya sendiri, jika klien memang ingin penyesuaian yang baik maka klien harus menyadari dan memiliki kemauan untuk berubah, agar proses konseling dapat berjalan lancar.
2.    Belajar membuat keputusan, dalam proses konseling juga harus belajar dalam membuat keputusan. Memang tidak gampang dalam mengambil keputusan, tetapi klien harus belajar dan berani dalam hal itu. Karena yang lebih tahu dan paham tentang masalah tersebut adalah klien itu sendiri. Setiap keputusan yang diambil pasti memiliki konsekuensi positif dan negatif, menguntungkan dan merugikan, yang menunjang maupun yang menghambat. Maka dari itu, dorongan dari konselor juga diperlukan tetapi dengan risiko yang sudah dipertimbangkan sebelumnya sebagai konsekuensi alamiah.
3.    Mencegah munculnya masalah, mencegah munculnya masalah mengandung tiga pengertian, yaitu mencegah jangan sampai mengalami masalah di kemudian hari, mencegah jangan sampai masalah yang dialami bertambah berat atau berkepanjangan, mencegah jangan sampai masalah yang dihadapi berakibat gangguan yang menetap (Notosoedirdjo dan Latipun,1999)


Konseling dan Psikoterapi merupakan suatu usaha profesional untuk membantu/memberikan layanan pada individu-individu mengenai permasalahan yang bersifat psikologis. Dengan kata lain Konseling dan Psikoterapi bertujuan memberikan bantuan kepada klien untuk suatu perubahan tingkah (behavioral change), kesehatan mental positif (positive mental health), pemecahan masalah (problem solution), keefektifan pribadi (personal effectiveness), dan pembuatan keputusan (decision making). Dengan demikian seorang konselor perlu didukung oleh pribadi dan keterampilan yang dapat menunjang keefektifan konseling.
Pada dasarnya antara konseling dan psikoterapi dalam hal tujuan sama-sama ingin membantu agar klien dapat menemukan permasalahan untuk kemudian dapat dipecahkan bersama-sama, namun semua itu hanya dapat terlaksana dengan baik manakala klien dapat membuka diri dan mau diajak kerjasama.
Dan adapun perbedaannya lebih kepada pendekatan dan cara penanganannya, dimana konselor sebagai mitra yang dapat memberikan masukkan dan membantu untuk memunculkan suatu permasalahan yang dirasakan klien baik masalah yang disadari maupun yang tidak disadari, sedangkan psikoterapis selain menggunakan tehnik konseling ia juga menggunakan therapy yang sifatnya lebih kepada perubahan pada prilaku yang sangat substanstib.

Referensi :

Corey, Gerald. (2009). Teori Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Refika Aditama.

Markam, S.L.S., Sumarmo. (2007). Pengantat Psikologi Klinis. Jakarta: UI-Press.

Sabtu, 30 April 2016

MAKALAH PSIKOLOGI KESEHATAN
(ANALISIS FILM HE LOVES ME, HE LOVES ME NOT)





BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Erotomania adalah sejenis khayalan dimana orang yang bersangkutan percaya bahwa orang lain, biasanya orang asing atau orang terkenal, jatuh cinta kepadanya. Sindrom ini pertama kali ditelaah oleh psikiater asal Prancis yang bernama Gaetan Gatian Clerambault. Ia menyusun sebuah makalah yang membahas tentang gangguan kepribadian semacam ini pada tahun 1921. Dalam dunia psikiatri sendiri, referensi sejenis ini telah ada pertama kali dalam tahun 1623 dalam sebuah risalah berjudul Maladie d’amour ou melancolie erotique yang ditulis oleh Jacques Ferrand, dan juga disebut sebagai “old maid’s psychosis”, “erotic mania ” dan “erotic self-referent delusions ”, hingga ke masa sekarang disebut sebagai bentuk dari Erotomania atau de Clerambault’s Syndrome.
Dalam film yang akan kami bahas berkisah tentang seorang wanita yang mengidap penyakit mental, Erotomania. Film ini berjudul He Loves Me, He Loves Me Not (À la folie… pas du tout. Wanita ini jatuh cinta dan terobsesi kepada seorang pria dalam kadar yang sungguh berlebihan. Padahal si pria tidak mengenalnya sama sekali. Almost completely stranger .Singkat cerita, karena cita gila ini, si wanita nekat berbuat apa saja. Bahkan si wanita rela membunuh demi membantu si pria keluar dari masalahnya. Ah, pokoknya cinta gila gitu deh. Pada akhir film, si wanita ini ditangkap dan dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Cintanya tak pernah berbalas.

1.2  Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian dari erotomania?
2.      Bagaimana gejala dari erotomania?
3.      Apa cara penyembuhan untuk penderita erotomania?
4.      Sinopsis dan analisis film.

1.3  Tujuan Penulisan

1.      Menambah wawasan tentang Psikologi Kesehatan Mental terutama dalam penyakit mental erotomania.
2.      Menyelesaikan tugas makalah Psikologi Kesehatan Mental.



BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Pengertian Erotomania

Erotomania atau biasa dikenal dengan sebutan de Clerambault’s syndrome. merupakan suatu bentuk gangguan kepribadian dimana para penderitanya memiliki keyakinan yang merupakan waham bahwa ada seseorang, biasanya yang memiliki status sosial lebih tinggi (selebritis, bintang rock, orang terkenal, wanita sosialita, bos, dll), memendam perasaan cinta kepada si penderita, atau mungkin memiliki suatu bentuk hubungan intim. Gangguan kepribadian ini rata-rata penderitanya adalah kaum pria.
Erotomania berasal dari bahasa Yunani, eros, yang artinya cinta. Serta mania, yang artinya berlebihan. Dalam tahap yang parah erotomaniak tak perlu kontak langsung dengan seseorang untuk menyangka orang itu jatuh cinta padanya. Ia bisa saja mengagumi seorang aktris ditelevisi, dan menganggap semua yang dikatakan sang aktris ditelevisi ditujukan pada dirinya. Ia pun merasa diperhatikan, dan menganggap sang aktris jatuh cinta padanya.
Sindrom ini pertama kali ditelaah oleh psikiater asal Prancis yang bernama Gaetan Gatian Clerambault. Ia menyusun sebuah makalah yang membahas tentang gangguan kepribadian semacam ini pada tahun 1921. Dalam dunia psikiatri sendiri, referensi sejenis ini telah ada pertama kali dalam tahun 1623 dalam sebuah risalah berjudul Maladie d’amour ou melancolie erotique yang ditulis oleh Jacques Ferrand, dan juga disebut sebagai “old maid’s psychosis”, “erotic mania ” dan “erotic self-referent delusions ”, hingga ke masa sekarang disebut sebagai bentuk dari Erotomania atau de Clerambault’s Syndrome.
Inti utama dari bentuk sindrom ini adalah si penderita memiliki suatu khayalan atau delusi keyakinan bahwa ada orang lain, yang biasanya memiliki status sosial yang lebih tinggi, secara sembunyi-sembunyi memendam perasaan cinta kepadanya. Para penderita selalu yakin bahwa subjek dari delusi mereka secara rahasia menyatakan cinta mereka dengan isyarat halus seperti bahasa tubuh, pengaturan perabot rumah, atau dengan cara lainnya. Jika yang menjadi sasaran adalah seorang public figure , maka akan diartikan secara salah oleh penderita terhadap sesuatu yang tertulis dalam media massa tentang orang tersebut. Sering kali orang yang menjadi objek dalam delusi, hanya memiliki sedikit sekali hubungan atau bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan sang penderita. Walau demikian sang penderita tetap percaya bahwa sang objek-lah yang memulai semua hubungan khayal itu. Delusi Erotomania sering ditemukan dalam sebuah gejala awal dari sebuah gangguan delusional atau dalam konteks Skizofrenia.
Terkadang subjek yang berada dalam delusi tidaklah pernah ada dalam dunia nyata. Namun yang lebih sering terjadi, subjek adalah publik figur seperti penyanyi terkenal, aktor, aktris, politikus, selebritis dll. Erotomania juga disebut-sebut sebagai suatu penyebab perilaku stalking , yaitu suatu bentuk perilaku memperhatikan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang diperhatikan, lalu perlahan melakukan suatu upaya pendekatan yang bersifat mengganggu, biasanya dengan obsesi bahwa korban adalah orang yang perlu ditolong atau bahkan dimusnahkan. Selain itu Erotomania juga disebut sebagai penyebab dari bentuk suatu tindakan yang mengganggu orang lain.
Erotomania merupakan suatu gangguan yang jarang ditemukan dimana seseorang mempunyai dan meyakini kepercayaan yang kuat bahwa seseorang lain dari status sosial yang lebih tinggi mencintai atau mempunyai hubungan yang intim darinya.
Istilah erotomania juga biasanya digunakan untuk suatu keadaan klinis yang tidak spesifik mengenai hasrat cinta atau sex yang berlebihan yang juga disertai dengan preokupasi akan hal tersebut. Biasanya subjek waham tersebut tidak benar-benar nyata, walaupun sering ditemukan, subjek adalah seseorang figur seperti penyanyi, aktor, dan politikus. Erotomania dikatakan sebagai salah satu sebab dari menguntit atau pemicu pelecehan.

2.2  Gejala Erotomania

Erotomaniac cenderung yang dimulai dengan hal-hal yang sederhana, seperti ungkapan kasih sayang yang halus kepada sasarannya kemudian sampai hal-hal di luar kendali dan dapat menyebabkan ekspresi kemarahan , frustasi dan kekerasan ketika ditinggal pergi atau diabaikan dan korban terus menegaskan kurangnya minat. Diketahui juga bahwa seorang penderita erotomania sama sekali tidak bisa untuk melihat korban (orang yang dirasa menyukainya) tidak menyukainya.

2.3  Cara Penyembuhan Penderita Erotomania

Penderita erotomania yang sudah sampai pada tahap gangguan kejiwaan akut, tidak bisa disembuhkan hingga normal sepenuhnya. Lain halnya bila penyakit ini belum sampai pada tahap ekstrem, penderita masih bisa disembuhkan dengan menggunakan behaviour cognitive therapy. Terapi ini dipakai untuk meruntuhkan ide – ide bahwa dia dicintai oleh orang – orang tertentu. Kemudian fantasinya dikembalikan pada realita. Bila terlalu parah, bisa juga dibantu dengan bantuan obat – obatan medis seperti antidepresan agar lebih tenang.
Penyembuhan lain juga dapat dilakukan dengan cara, menegaskan bahwa orang yang dianggap menyukainya tidak tertarik untuk melanjutkan hubungan dengan yang menderita, lalu dilakukan terapi, alam konteks skizofrenia dan dapat diobati dengan antipsikotik atipikal.




BAB III
SINOPSIS DAN ANALISIS FILM


3.1  Sinopsis Film

He Loves Me He Loves Me Not (French: À la folie… pas du tout) adalah sebuah film Prancis produksi tahun 2002. Film yang dibintangi oleh Audrey Tautou (pemeran Sophie Neveu dalam film The Da Vinci Code) mengisahkan tentang seorang mahasiswa seni Angelique (Audrey Tatou) yang mencintai Dr. Loic Le Garrec (Samuel Le Bihan). Ia juga seorang part- timer di sebuah cafe dan untuk menambah pemasukan, ia menjaga sebuah rumah kosong yang ditinggalkan liburan oleh pemiliknya.
Dari awal sampai pertengahan film, penonton diajak untuk mengikuti cerita dari sudut pandang Angelique. Ia selalu bercerita pada teman-temannya, betapa ia sangat mencintai Loic dan betapa sedihnya ia, karena tidak bisa bersatu dengan Loic yang sudah beristri. Meskipun teman-temannya selalu memaksa Angelique untuk meninggalkan Loic, tapi ia bersikeras bahwa Loic akan menceraikan istrinya demi dia. Cinta Angelique pada Loic memang sangat dalam. Ia rela melakukan apa saja demi Loic, bahkan ia rela membunuh demi membantu Loic keluar dari masalahnya.
Suatu ketika, Angelique dan Loic berencana untuk pergi ke Italy, namun Loic tak kunjung muncul di bandara. Mulai saat itu, Angelique berubah drastic. Ia mengalami depresi yang membuatnya kehilangan teman-temannya juga beasiswa dari sekolah seni. Yang paling parahnya, ia sampai mencoba bunuh diri dengan menghirup gas di ruangan tertutup. Disinilah cerita kembali ke awal, tapi dari sudut pandang Loic. Semua yang terjadi hanyalah khayalan Angelique. Ia memang pernah bertemu dengan Loic di sebuah tempat, dan sejak itu Angelique jatuh cinta.
Namun mereka tidak pernah berpacaran, bahkan Loic tidak mengenal Angelique. Jadi apa yang terjadi dengan Angelique? Setelah diselidiki, ternyata dia menderita penyakit erotomania, yaitu bentuk gangguan kepribadian dimana para penderitanya memiliki keyakinan bahwa ada seseorang yang memendam perasaan cinta kepada nya. Nasib Angelique pun berakhir di rumah sakit jiwa.




3.2  Analisis Film

He Loves Me He Loves Me Not (French: À la folie… pas du tout) adalah sebuah film Prancis produksi tahun 2002. Film yang dibintangi oleh Audrey Tautou (pemeran Sophie Neveu dalam film The Da Vinci Code) ini bercerita tentang seorang wanita yang menderita erotomania. Wanita ini jatuh cinta dan terobsesi kepada seorang pria dalam kadar yang sungguh berlebihan. Padahal si pria tidak mengenalnya sama sekali. 
Singkat cerita, karena terobsesi pada seorang pria, si wanita nekat berbuat apa saja. Bahkan si wanita rela membunuh demi membantu si pria keluar dari masalahnya. Pada akhir film, si wanita ini ditangkap dan dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa dan Cintanya tak pernah berbalas.

Erotomania

Erotomania adalah sejenis khayalan dimana orang yang bersangkutan percaya bahwa orang lain, biasanya orang asing atau orang terkenal, jatuh cinta kepadanya. Sindrom ini pertama kali ditelaah oleh psikiater asal Prancis yang bernama Gaetan Gatian Clerambault. Ia menyusun sebuah makalah yang membahas tentang gangguan kepribadian semacam ini pada tahun 1921. Dalam dunia psikiatri sendiri, referensi sejenis ini telah ada pertama kali dalam tahun 1623 dalam sebuah risalah berjudul Maladie d’amour ou melancolie erotique yang ditulis oleh Jacques Ferrand, dan juga disebut sebagai “old maid’s psychosis”, “erotic mania” dan “erotic self-referent delusions”, hingga ke masa sekarang disebut sebagai bentuk dari Erotomania atau de Clerambault’s Syndrome.
Inti utama dari bentuk sindrom ini adalah si penderita memiliki suatu khayalan atau delusi keyakinan bahwa ada orang lain, yang biasanya memiliki status sosial yang lebih tinggi, secara sembunyi-sembunyi memendam perasaan cinta kepadanya. Para penderita selalu yakin bahwa subjek dari delusi mereka secara rahasia menyatakan cinta mereka dengan isyarat halus seperti bahasa tubuh, pengaturan perabot rumah, atau dengan cara lainnya. Jika yang menjadi sasaran adalah seorang public figure, maka akan diartikan secara salah oleh penderita terhadap sesuatu yang tertulis dalam media massa tentang orang tersebut. Sering kali orang yang menjadi objek dalam delusi, hanya memiliki sedikit sekali hubungan atau bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan sang penderita. Walau demikian sang penderita tetap percaya bahwa sang objek-lah yang memulai semua hubungan khayal itu. Delusi Erotomania sering ditemukan dalam sebuah gejala awal dari sebuah gangguan delusional atau dalam konteks Skizofrenia.
Terkadang subjek yang berada dalam delusi tidaklah pernah ada dalam dunia nyata. Namun yang lebih sering terjadi, subjek adalah publik figur seperti penyanyi terkenal, aktor, aktris, politikus, selebritis dll. Erotomania juga disebut-sebut sebagai suatu penyebab perilakustalking, yaitu suatu bentuk perilaku memperhatikan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang diperhatikan, lalu perlahan melakukan suatu upaya pendekatan yang bersifat mengganggu, biasanya dengan obsesi bahwa korban adalah orang yang perlu ditolong atau bahkan dimusnahkan. Selain itu Erotomania juga disebut sebagai penyebab dari bentuk suatu tindakan yang mengganggu orang lain.
Erotomaniac cenderung yang dimulai dengan hal-hal yang sederhana, seperti ungkapan kasih sayang yang halus kepada sasarannya kemudian sampai hal-hal di luar kendali dan dapat menyebabkan ekspresi kemarahan , frustasi dan kekerasan ketika ditinggal pergi atau diabaikan dan korban terus menegaskan kurangnya minat. Anehnya seorang penderita erotomania tidak bisa sama sekali untuk melihat korban (orang yang dirasa menyukainya) tidak menyukainya.
Penyembuhannya dapat dilakukan dengan cara, menegaskan bahwa orang yang dianggap menyukainya tidak tertarik untuk melanjutkan hubungan dengan yang menderita, lalu dilakukan terapi, alam konteks skizofrenia dan dapat diobati dengan antipsikotik atipikal.



KESIMPULAN


4.1  Kesimpulan

Erotomania merupakan suatu gangguan yang jarang ditemukan dimana seseorang mempunyai dan meyakini kepercayaan yang kuat bahwa seseorang lain dari status sosial yang lebih tinggi mencintai atau mempunyai hubungan yang intim darinya. Erotomania merupakan suatu bentuk gangguan kepribadian dimana para penderitanya memiliki keyakinan yang merupakan waham bahwa ada seseorang, biasanya yang memiliki status sosial lebih tinggi (selebritis, bintang rock, orang terkenal, wanita sosialita, bos, dll), memendam perasaan cinta kepada si penderita, atau mungkin memiliki suatu bentuk hubungan intim.
Erotomania juga disebut-sebut sebagai suatu penyebab perilaku stalking , yaitu suatu bentuk perilaku memperhatikan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang diperhatikan, lalu perlahan melakukan suatu upaya pendekatan yang bersifat mengganggu, biasanya dengan obsesi bahwa korban adalah orang yang perlu ditolong atau bahkan dimusnahkan. Selain itu Erotomania juga disebut sebagai penyebab dari bentuk suatu tindakan yang mengganggu orang lain.



                              DAFTAR PUSTAKA

Jeffrey S. Nevid dkk., Psikologi Abnormal (Jakarta: Erlangga, 2005) edisi kelima/jilid 2
akatsuki-ners.blogspot.com/2011/09/erotomania-gangguan-jiwa-para.html?m=1





#SIP CBIS (Computer Based Information System)

A. Computer Based Information System 1.   Computer Based Information System   a. Definisi     Computer Based Information Sy...